Teman-teman, kita sudah sampai di era baru industri musik. Era dimana label rekaman melancarkan strategi terkejam dalam sejarah industri musik di tanahair: Menguasai artis dengan jalan mengelola karir mereka. Istilah populernya mereka melakukan ekspansi bisnis dengan cara membuka divisi Manajemen Artis di label rekaman. Gue adalah salah seorang yang nggak setuju dengan berdirinya manajemen artis dalam sebuah label rekaman. Gue punya argumentasi yang kuat untuk ini. Label rekaman itu INKOMPETEN untuk urusan manajemen artis dan nantinya gue yakin malah bakal merusak tatanan industri musik yang selama ini otonom dari tiga belah pihak terkait (artis, manajemen, label). Bisnis utama label rekaman adalah jualan kaset, CD, RBT, dsb. Semua yang berhubungan dengan rekaman musik. Dari nama saja sudah jelas: Perusahaan Rekaman! Akhirnya ketika mereka membuka divisi baru (Artis Manajemen) gampang ditebak kalo kerepotan dan berbagai kebodohan dalam urusan manajerial artis bakal terjadi di sana. Mulai dari SDM yang mereka miliki butut hingga praktek-praktek jualan band yang obscure. Karena mereka masih "belajar" maka jangan cari profesionalisme manajemen artis di dalam major label :) Conflict of interest tingkat tinggi juga bakal terjadi di dalam band ketika manajernya bingung harus membela kepentingan yang mana nantinya (artis atau label?). Secara manajer lama kemungkinan besar bakal ”digaji” oleh label dan nanti hanya akan menjadi sub-ordinat dari manajemen baru. Gara-gara pembajakan musik yang makin gokil (bahkan konon direstui negara) dan menurun drastisnya penjualan album fisikal, akhirnya mereka mengambil jalan pintas mendirikan manajemen artis yang ujungnya lagi-lagi merugikan artis nantinya. Label bukannya bersatu memerangi pembajakan namun malah berkomplot untuk mengeksploitasi artis habis-habisan agar mereka bisa terhindar dari kebangkrutan. Biarkan artis yang bangkrut, tapi jangan labelnya! Kira-kira kasarnya begitu. Sekali lagi artis adalah obyek penderita nomor satu nantinya. Setelah kecilnya nilai royalti mekanikal di Indonesia, statistik penjualan album yang manipulatif, dilarangnya artis bergabung dengan KCI oleh ASIRI (atau diminta keluar dari KCI jika telah bergabung) maka penindasan terhadap artis akan datang lebih kejam lagi nantinya. Detailnya kira-kira seperti di bawah ini. Ini prediksi yang bakal terjadi di masa depan dengan ”artis-artis baru” yang kontrak dengan major label yang memiliki divisi manajemen artis: - Masa depan karir band baru akan tergantung dari label rekaman, bukan berada di tangan manajemen lama atau artisnya sendiri. - Tumpulnya peran dan kontrol manajemen artis yang lama dalam membela kepentingan-kepentingan artis. Manajemen lama akan menjadi sub-ordinat dari label dan kemudian hanya berfungsi sebagai baby-sitting artis. Semua fungsi kontrol dan decision making artis akan terpusat kepada label sebagai investor. Manajer lama tidak punya hak karena mereka tidak invest apapun. Kemungkinan besar mereka akan disingkirkan dengan jalan "pembusukan". Mempengaruhi artis dengan iming-iming kesuksesan di industri musik. - Kontrol yang sangat ketat dalam proses kreatif dan menciptakan musik berakibat hilangnya idealisme artistik & estetis karena artis hanya akan diperbolehkan menciptakan musik-musik yang tengah disukai oleh pasar yang tidak cerdas. Sejuta band mirip Kangen Band diprediksi akan membajir di industri musik kita :) - Berkurang secara signifikannya pemasukan bagi artis karena mereka harus share profit selain dari royalti mechanical, live show, merchandise, touring, advertising, publishing dan sebagainya. Hal yang belum pernah terjadi sebelumya. It's a very big, big, big LOSS, ladies & gentleman! - Buruknya lagi, kalau artis baru nanti terlalu blo'on, maka tingkat eksploitasi akan diperkejam lagi hingga nama band dipatenkan oleh label, internal band akan dikontrol langsung pihak label, penggelapan royalty, sales report yang culas hingga berlakunya sistem bodoh dengan label menggaji para artis. Jika selama ini kita memandang artis sebagai seniman dengan talenta yang tidak ternilai maka selanjutnya kita akan dipaksa memposisikan artis tak lebih dari "kuli musikal." Strategi ”mega-eksploitatif” ini memang hanya diberlakukan bagi band-band baru yang ditawarkan kontrak rekaman oleh major record company. Contoh paling konkret misalnya terjadi pada Nidji, Letto (Musica), The Changcuters, St. Loco, Vagetoz (SonyBMG Indonesia), Kangen Band (Warner), Tahta (EMI), dsb. Semuanya memang memiliki deal-deal yang berbeda satu sama lain. Maksudnya tingkat eksploitasinya berbeda-beda. Ada yang parah dan ada yang parah banget. Gue sempat mendengar ada satu band yang dipotong komisinya sebesar 45% (gross) setelah join dengan manajemen artis major label. Band baru yang hadir dengan strategi yang brilyan dan sangat berhasil di awal karirnya adalah Samsons yang melakukan master licensing deal dengan Universal Music Indonesia. Mereka membiayai sendiri produksi rekaman dan kemudian menjalin kerjasama promosi & distribusi dengan major label selanjutnya. Ke depannya deal seperti ini nantinya akan menjadi ”favorit” para manajer artis (tentu bila mampu). Pastinya, label rekaman tidak akan menawarkan strategi keji ini kepada band-band lawas/senior karena bargaining position mereka sudah sangat kuat. Selain brand mereka sudah dikenal luas, pengalaman dan pengetahuan bisnis musik yang sangat memadai, fanbase yang kuat juga sangat berpengaruh terhadap positioning mereka di industri musik. Label sendiri kadangkala melihat artis-artis lawas sebagai ”uzur,” ”grace period” atau sudah rendah ”selling point”nya. Itulah kenapa akhirnya label rekaman besar hanya akan memburu band-band/artis baru yang masih hijau, yang minim pengetahuan bisnis musiknya dan belum paham peta/konstalasi industri musik lokal. Selain bakal gampang dibodohi dengan kontrak yang sangat eksploitatif mereka juga akan dipengaruhi iming-iming "fame & fortune" di industri musik. Padahal belum tentu bakal "booming" juga :) Jika Anda saat ini berada di sebuah band baru dan ditawarkan kontrak rekaman dari major label maka jangan terburu-buru tergiur dulu! Imej bergengsi major label tidak akan banyak memberi keuntungan. Yang terpenting adalah deal-nya, bukan masalah major atau indie label-nya. Pelajari dulu dengan seksama kontraknya, undang pengacara kenalan Anda untuk membedahnya, konsultasi dengan band-band lain yang sudah berpengalaman. Sudah banyak kasus terjadi sebelumnya. Band-band baru menandatangani kontrak rekaman jangka panjang dengan major label dan akhirnya menyesal. Ketika bandnya booming dan banyak menerima job manggung beberapa ada yang melakukan ”resistensi” konyol dengan tidak menyetorkan komisi kepada label sesuai perjanjian. Menjadi konyol karena setelah kontrak rekaman itu ditandatangani maka konsekuensi-konsekuensi di belakangnya seharusnya sudah kita tahu sejak awal. Oleh karena itu jangan ikut mengantri di barisan kebodohan. Empowered yourself! Cara kerja label juga akan lebih mirip jarum suntik nantinya. Sekali pakai langsung buang, disposable. Artis-artis baru tidak akan ada yang didevelop untuk panjang umur karirnya, mereka hanya akan disupport demi "popularitas maksimal dua atau tiga album saja!" Setelah booming besar dan untung besar, siap-siap menuju ladang pembantaian. Setelah dibantai maka dicari lagi talenta baru. Kalau kita jeli fenomena seperti ini sebenarnya telah terjadi sekarang ini di Indonesia. Label besar sejatinya nanti hanya akan menjadi pusat manufaktur band! :) Kita tidak akan menemukan lagi band-band awet populer seperti Slank, Gigi, Netral, Dewa19, Naif di masa depan nantinya. Semuanya hanya akan "easy come, easy go!" Tapi kalo ada yang bilang label membuka manajemen artis bakal membunuh pula profesi manajer artis individual/otonom, gue sama sekali nggak setuju. Gue justru nggak melihat kalau manajer-manajer artis yang independen itu bakal tergusur atau kehilangan pekerjaan. Ini analisa yang terlalu sembrono. It's not the end of the world as we know it :) Negara ini punya lebih dari 200 juta penduduk. Yang pengen jadi artis, bikin band dan gilpop (gila popularitas) setiap harinya pasti bertambah ribuan. Justru segudang talenta ini menjadi market yang sangat potensial bagi manajer-manajer artis untuk dikelola. Manajemen artis yang individual atau berbentuk firma masih akan sangat dibutuhkan dan berperan penting di sini nantinya. Perkembangan teknologi yang gokil belakangan masih menjanjikan masa depan yang cerah buat band-band yang tidak dikontrak major label lokal/internasional a.k.a indie. Hadirnya MySpace, YouTube, Multiply, Friendster, Ning dan perangkat musik digital lainnya sangat memungkinkan untuk mencetak artis besar via jalur alternatif. The Upstairs sendiri udah membuktikan hal ini sebelumnya. Apalagi tren terbaru di Amrik dan Inggris sekarang rata-rata artis bernama besar malas memperpanjang kontrak rekaman mereka dan memilih hengkang dari major label. Prince, Madonna, Radiohead, NIN adalah para pelopor ”gerakan kembali ke indie” ini. Mereka justru mempercayakan manajemen artis mereka yang independen untuk berfungsi pula sebagai "label rekaman". Cepat atau lambat gue pikir band-band besar di Indonesia akan mengambil langkah yang sama nantinya. Slank, Naif dan Netral malah sudah membuktikannya..... dan mereka cukup berhasil! Salute! Masih adakah jalan lain? Ada banget! Di dalam negeri sendiri sudah ada yang mempelopori ”penggratisan musik.” Album rekaman kini telah berubah fungsi menjadi sebuah ”marketing tool” untuk menjaring job manggung. Mungkin inilah masa dimana musisi tidak lagi memikirkan royalti rekaman! Bisa jadi kalau teknologi kloning nanti sudah semakin sempurna maka ini berarti ancaman besar! :) Koil menjadi pionir dengan menjalin kerjasama dengan majalah musik untuk mendistribusikan album terbarunya (Blacklight Shines On) secara gratis. Selain itu mereka juga memberi akses download album gratis via website/mailing list musik. Ide Koil ini memang tergolong baru walau sebenarnya tidak original juga. Prince bulan Juni lalu lebih dulu mengedarkan 3 juta keping album terbarunya secara gratis via Tabloid Sun di Inggris. Memang perlu dipelajari lebih lanjut lagi apakah strategi ”penggratisan musik” ini nantinya bakal merugikan atau malah menguntungkan. Yang pasti band-band baru tidak akan memiliki ”keistimewaan” seperti Koil jika mau mengambil strategi serupa. Yang menarik lagi, sempat ada pertanyaan di bawah ini yang datang ke saya ketika jadi pembicara di sebuah seminar musik di kampus UI beberapa waktu lalu: Bagaimana dengan marak terjadinya kasus manager-manager artis individual/otonom yang tidak profesional atau bermasalah? Katakan saja menipu artisnya, melakukan penggelapan keuangan, dsb. Nah, untuk point di atas sebenernya gue jamin nggak akan terjadi lagi kalau di dalam manajemen artis kita sudah DITERTIBKAN secara organisasi dan administrasinya. Mari kita lihat apakah kita sudah memiliki kontrak tertulis antara manajemen dengan artis yang mengatur kerjasama profesional ini? Apakah peran, hak & kewajiban masing-masing pihak sudah di jabarkan secara rinci? Pemisahan fungsi manajemen sudah diberlakukan? Apakah antar personel band kita sudah memiliki kontrak internal pula? Kalo semua konsolidasi internal ini beres gue jamin masalah-masalah di atas nggak bakal terulang lagi di masa depan. Oke, sementara begitu aja pandangan gue tentang isyu ini. Memang tulisan ini nggak akan mengubah strategi major label untuk tidak membuka divisi manajemen artis di dalam perusahaan mereka, toh semuanya jadi keputusan bisnis mereka juga. It’s their damn business afterall :) Lagipula masih ada juga major label yang tidak memberlakukan strategi dagang ini (paling tidak sementara ini), misalnya seperti Aquarius Musikindo, Universal Music Indonesia. Yah, minimal kita bisa mencegah regenerasi kebodohan dan berlanjutnya proses pembodohan seperti ini sekarang juga. Gue sangat berterimakasih kalo ada teman-teman yang mau memforward atau menyebarluaskan tulisan ini agar dibaca lebih banyak artis-artis baru yang berniat mempertaruhkan masa depan dan karir mereka sebagai musisi. Jangan biarkan mereka dirampok! Hope we could make real changes together. For better, not worst.... Vive le rawk!
 | mr wenz.... saya boleh izin mengcopy paste tulisan anda yang satu ini untuk ditaruh disalah satu forum diskusi genre musik? saya akan tetap menulis nama bapak wenz disana...dan memberikan Link blog ini sebagai penegas... saya suka tulisan ini dan menurut saya tulisan ini wajib disebar...(bukan diplagiasi...tapi didistribusikan...) |
 | btw wenz, gue baru tau kalo artis (sbg musisi) bisa masuk di ASIRI. Sepanjang pengetahuan gue, ASIRI untuk perusahaan yang bergerak di industri rekaman. Kalau KCI untuk pencipta lagu. Ada juga yang namanya PAPPRI.
oke tulisannya bagus |
 | Thx a lot Wenz udah nulis ini. Didn't know that much bout Industri musik di Indonesia, but setelah baca ini..damnt, bikin gregetan juga yah kondisinya. I'll help you forward this. Temen2 should know this. |
 | Belom lagi fake tour dates, fake sales, istilah 'promote your own music with ur own money and hire them as agency' bukan hal baru lagi, 'we'll release ur records soon depend how much money do u have?', dan masih banyak tetek bengek busuk yang sebenernya wajib banget diteliti dan dibuat riset, karena yang di sini ini makin parah! They (major labels) have to survive from business, thus they have to find ways to do so.. and (unfortunately) they choose wrong way... *sigh*
Btw, tulisan yang sangat bermanfaat buat mereka yang masih 'ngantri' di barisan major.. saya bantu menyebarkan bro :) Nicely put! |
 | wenz, kondisinya memang parah ya.katanya dalam kontrak nidji dengan musica, master itu dipegang musica sampe 50 tahun lamanya! artinya sampe si giring stroke darahnya bener2 disedot abis ama major.parah. |
 | wah gokil segitu parahnya yah ckckck bener nih banyak yg harus baca tulisan ini Thanks oom Wenz !!
|
 | memang sulit untuk ngembangin ragam musik di indonesia... semua patokannya label and pasar :) |
 | great article! fakta yang mengecewakan sekaligus memalukan industri musik tanah air. Dan yang memilukan lagi, mereka-mereka ini seakan memonopoli pasar dan juga artis itu sendiri.
there's no longer a freedom made by the artist |
 | memang kalo semisal mampu, lebih baik master dipegang oleh artis sendiri. |
 | bhita wrote on Nov 20, '07 wenz, tulisan elo gue share ke anak2 kantor gue ya.. thx =) |
 | Wenz, thanks... what a thought man.. gue emang menjadi salah satu yg menentang kalo recording label mengambil lahan artist management... =)
|
 | haluuu wenz..saya copy ya wenz....!!akan saya sebarluaakan untuk teman-teman di solo..terima kasih..salam senang penuh cita..syalala |
 | apa yang dilakukan Koil, memberikan albumnya secara cuma-cuma, menurut gue sangat keren dan efektif mengingat nama mereka sudah cukup dikenal secara nasional. sama seperti Radiohead, NIN, etc. gue rasa memang sebaiknya band-band besar cabut dari label dan melakukan hal ini juga. hahaha. |
 | wen, tambahin tulis soal 360 deals itu dong. hehe...seru tuh!
dan sebagai pelaku artist management di label...ceileh...saya punya pesan...this is inevitable, jadi tolong pintar2 jadi band. karena walaupun fenomena ini tidak dapat dihindari tapi masih bisa diakalin. |
 | sebagai spesialis menangani artis baru (bhs kasarnya "emang elo dapetnya band baru mulu din"), melihat situasi di indonesia sejak 2 tahun terakhir alangkah lebih enak kalo sistem "titip edar", dan manajemen dipegang penuh oleh manajemen si artis, jadi fungsi label hanya mendistribusikan saja, dan kontrol semuanya dipegang oleh artis....walau tetep ajah ada minusnya apalagi kalo label kecil *curcol* =P |
 | FYI, aquarius? seinget gue artis mereka D'Cinnamons manajemennya dipegang oleh aquarius (menurut informasi dari vokalisnya sendiri) |
 | setuju. label sekarang terlalu mengatur artis kontrakannya. |
 | Divisi Manajemen Artis ini maksudnya versi lokal dari divisi A&R (Artist & Repertoire) kah? Kalau iya, sebenarnya apakah memang divisi ini sebaiknya sama sekali tidak ada? Atau bisa bagus ada dengan kondisi-kondisi tertentu? Sebagai benchmarking, apakah divisi A&R major label di industri musik Eropa atau Amerika juga begitu? Kalau berbeda, apa yang membuatnya beda? Karena kalau baca informasi di Wikipedia, kesannya (bisa jadi kesan berbeda dari kenyataan) berkat figur A&R seperti John Hammond-lah talenta seperti Bob Dylan atau Bruce Springsteen bisa muncul. Dan mereka terbukti bertahan.
Mohon pencerahannya. |
 | gue share yah wenz...ditunggu pelajaran2x terbarunya! =) |
 | wenzrawk wrote on Nov 21, '07, edited on Nov 21, '07 gue rasa memang sebaiknya band-band besar cabut dari label dan melakukan hal ini juga. hahaha.  Yoi, band-band besar cabut dari major dan band-band baru diedukasi biar terhindar dari kontrak kejam. Kayaknya major label bakal ngegedein artis-artis musik etnis nih nantinya haha. Secara yang pop pada ogah gabung semua ke sana :) |
 | jadi inget, ada satu band. waktu mereka mau sign kontrak sama label gede, bilang belum apa-apa udah dikibulin soal kontrak kerja. si manajernya cerita soal 'penipuan' ini. tapi herannya, udah jelas-jelas ada gelagat buruk, bahkan sebelum mereka teken kontrak rekaman, mereka tetep sign kontrak sama label itu. alasannya, ingin distribusi albumnya lebih luas. mungkin mereka ingin segera mengubah nasib bandnya.
intinya, mereka yang udah tau bakal diperlakukan buruk aja, tetep masuk ke sana, apalagi yang belum tau. agak menyedihkan jadinya. |
 | very very interesting...thanks for the valueable info ya wen, kalo boleh gue akan copy-paste juga and tulis nama lo. |
 | Wen gue copy-paste ke blog gue yah!bagus banget wen tulisannya.. dan ini kabar yang sangat bermanfaat buat siapapun, apalagi band-band baru, paling nggak mereka agak sedikit terhindarkan dari kerajaan setan! haha. |
 | Divisi Manajemen Artis ini maksudnya versi lokal dari divisi A&R (Artist & Repertoire) kah? Kalau iya, sebenarnya apakah memang divisi ini sebaiknya sama sekali tidak ada? Atau bisa bagus ada dengan kondisi-kondisi tertentu? Sebagai benchmarking, apakah divisi A&R major label di industri musik Eropa atau Amerika juga begitu? Kalau berbeda, apa yang membuatnya beda? Karena kalau baca informasi di Wikipedia, kesannya (bisa jadi kesan berbeda dari kenyataan) berkat figur A&R seperti John Hammond-lah talenta seperti Bob Dylan atau Bruce Springsteen bisa muncul. Dan mereka terbukti bertahan.
Mohon pencerahannya.  Q: Divisi Manajemen Artis ini maksudnya versi lokal dari divisi A&R (Artist & Repertoire) kah?
A: Bukan. Beda. Ini divisi yang baru dibuka bersama-sama divisi new media/digital music. A&R lebih kepada berburu talent baru, disigned dan menentukan repertoar album, sementara manajemen artis ini lebih ke tujuan merencanakan masa depan karir band itu.
Q: Sebagai benchmarking, apakah divisi A&R major label di industri musik Eropa atau Amerika juga begitu?
A: Nggak. Mereka tetap stick sama job description sbg A&R. Di luar sendiri malah model bisnis buka manajemen artis itu nggak pernah ada. Ini karena sistem manajemen artis di sana udah dilindungi asosiasi, ada regulasi ketat yang mengatur industri musiknya. Ini yang gak ada di kita.
"Karena kalau baca informasi di Wikipedia, kesannya (bisa jadi kesan berbeda dari kenyataan) berkat figur A&R seperti John Hammond-lah talenta seperti Bob Dylan atau Bruce Springsteen bisa muncul. Dan mereka terbukti bertahan."
Wah, divisi A&R itu ermang mesti ada di label, divisi lain boleh punah tapi kalo A&R gak ada makanya bukan label rekaman namanya hehe... |
 | informasi yang menarik :) |
 | Halo Mr. Wenz, Tulisan yang bagus! Masih banyak orang yang harus disadarkan akan hal ini...
Bisakah saya menerbitkannya di majalah digital saya? atau artikel ini hanya bisa dipublikasikan lewat blog pribadi dan forum musik saja kah?
terima kasih, Ivann |
 | gw link yaaa..
weeee.. keren amat tulisannya. info yg berguna! |
 | tulisan bagus... wen...numpang ngopy n nge-link yah... harus di sebarin nih... |
 | kurang lebih sama lah dengan yang gue dengar seseorang.... hehehe
Good writing bro! |
 | gak nyoba untuk dilink ke facebook wen?
udah gue link juga sih di facebook gue.. |
 | buat anak2 band kayaknya banyak yang udah tahu lama tentang ini sih mas.. but still nice writing thou.. benar semua.. dan pasti berguna..
anyway.. saya lebih senang mengamati pelacuran dalam industri musik di Indonesia.. (maaf istilah ini) mereka (tidak sedikit dari para major label band) melacurkan keidealisan mereka, mengganti nama band, aliran, sampai dandanan.. dan parahnya sebenernya memunahkan daya karya original mereka. Maaf mungkin agak terlihat Out of text.. tapi masih ada hubungannya dengan tuntutan dari mereka para managemen yang bekerjasama dengan si band2 tersebut. Memang industri musik adalah bisnis. Dan selera pasar adalah segalanya. , Tapi kalo menurut saya cukup crusial dalam mengganggu masa depan band di Indonesia, dan masalah ini ngga ilang2 dari Indonesia.
sekali lagi terimakasih untuk menulis jurnal ini ya. |
| tulisan & obrolan yg asyik!! ta' share yaaa... tx all! |
 | i like this writing, lemme share ya. thanks. |
 | hohohoo bang wenz makanya gw gak pernah mau masuk major (walaupun mereka gak akan mau juga,kekeke) bukan karena alesan yang ribet2 kayak diatas sih,tapi lebih ke masalah ogah diatur atur
|
 | gw lebih setuju dengan going indie, musisi seharusnya serius kalo pengen bermusik, salah satu cara seriusnya adalah dengan berinvestasi, emang sih ngomongin duit disini, tapi kan seperti layaknya bisnis lain, bermusik juga perlu modal.
dan soal membunuh artis-artisnya, nggak usah jauh-jauh ke major label, salah satu label-kecil-tapi-established itu juga mengacuhkan beberapa artis yang bernaung di bawahnya kok |
 | Really worth reading!
Jadi kalau tidak salah inti permasalahannya adalah pada kemampuan finansial artis/band baru? Correct me if i'm wrong :) |
 | ada gak sih? artis yang bisa tetep bertahan, dengan segala idealisme mereka, tetap bertahan tetap dari pemasukan mereka sebagai artis musik? without selling out?
cmiiw, tapi menurut gue, akuisisi (gue lebih suka make bahasa ini daripada strategi terkejam - I mean, it's just business. nothing personal.) pengurusan manajemen artis adalah shock therapy label ke artisnya. kayak bilang "sutralah.. gak usah idealis idealis. sooner or later lo bakal sell out juga. mendingan gue yang ngurusin sell out elo deh daripada lo yang ngurusin sendiri, tar berantakan terus investasi gue ke elo lama baliknya).
again, ini cuman pendapat bodoh dari orang yang lebih suka mendengarkan musik loh ya. bukan mengurusi bisnisnya. |
 | tulisannya BAGUS! :)\ guna banget |
 | Setuju sama comment2 diatas, tulisannya bagus.. Nambah wawasan gw Wenz,hehehe.. Jadi The Upstairs nanti bakal balik ke indie lagi Wenz? Gw setuju tuh sama yang lo bilang kayanya nanti ga ada lagi band-band sperti Slank, Naif, dll palingan yang bakal membanjir Kangen Band,dll.. Oh no!!! |
 | Gue bantu menyebarkan, yah. |
 | setelah baca article ini, saya jadi penasaran dan cari tahu tentang deal madonna. ternyata madonna itu ke livenation, salah satu penyelenggara concert terbesar di US, dan dealnya bukan hanya album, tetapi meliputi concert, endorsement, merchandise dll.
jadi bingung, kalo gitu apa bedanya sama label yang ada artist management nya ya ? |
 | salam kenal,
permisi untuk ikut menyebarkan tulisan ini ya hmm ... untuuung dulu ga jadi ngambil job sebagai manajer artis ... belum tahu permainan label bisa sebegitu kejamnya |
 | setelah baca article ini, saya jadi penasaran dan cari tahu tentang deal madonna. ternyata madonna itu ke livenation, salah satu penyelenggara concert terbesar di US, dan dealnya bukan hanya album, tetapi meliputi concert, endorsement, merchandise dll.  Kalo gak salah, karena Madonna juga salah satu stockholder di LiveNation, dan mereka pengen bikin model bisnis musik masa depan seperti itu. Jadi dealnya, Livenation kira2 invest sebesar $120 juta, selama 10 tahun, untuk 3 album. Kompensasinya, Livenation dapet bagian dr segala macem produk studio, tours, merchandise, DVD releases, sponsorships, licensing agreements, fan club, Website, TV dan proyek2 film. Advanced royalti per album sekitar $17 juta dan bonus kontrak $18 juta, termasuk porsi didalamnya ada saham dan hak exclusive promo tour tadi dengan membayar $50 juta cash & saham, cmiiw. Madonna tertarik karena segala kemungkinan bisa aja dilakukan, unlimited distribution. Model bisnis masa depan? well.. duitnya juga unlimited sih :))
|
 | Tulisan di atas sangat mendidik dan menambah wawasan saya.. Teruskan dengan segala macam tindakan agar terhindar dari kebusukan label... Makasih atas mr wenz dan tulisannya... |
 | ngga cukup sekali baca. analitis sekali macam pengacara.
bravo... |
 | ayooo perbanyak gigs indie..... go go go pejuang indie.... ijin sedot wenzz.... |
 | journalin wrote on Nov 21, '07, edited on Nov 21, '07 Kangen Band kan berawal dari bajakan. Konon label sekarang juga memantau penjualan bajakan sebagai standar keberhasil hmm...sebaiknya bajakan dikenakan royalti dan pajak untuk artisnya.Walau dalam jumlah kecil sekalipun. Kayak jam tangan Levi's Kw 2 gitu deh, album versi murahan haha... Toh, pemerintah seperti sudah "melegalkan" dengan bertindak cuex membiarkan mereka buka lapak di mall dan depan kantor polisi haha... The Upstairs ditawarkan oleh label sistem manajemen beginiankah? Nama "label rekaman" jadi salah kaprah neh X P |
 | untung ngobrol dulu ama lo wen..hahahaha ;P |
 | cardo wrote on Nov 21, '07 Justru mungkin label butuh orang2 seperti anda mas Wen , supaya bisa ngasih masukan buat label bagaimana bisnis itu ga harus terlihat seperti bisnis, seperti nadya mungkin yang mencoba terjun kedalamnya...
yahhh...untuk dapat anak harimau harus masuk kesarangnya khan...
good luck.... |
 | good info... keep writing! |
 | nabun wrote on Nov 21, '07 gua sempet ada di manajemennya D'Cinnamons, dan gua mau konfirmasi kalo di POPS/Aquarius emang ada kebijakan yang seperti itu. tapi itu balik ke pinter2nya band tersebut mengelola perjanjiannya sih, dan akhirnya D'Cinnamons menempatkan label sebagai agen aja, karena bisa dijamin (dan emang terbukti) bahwa label tidak bias memenuhi target sesuai yang mereka janjikan. Dari yang gua liat, emang kapasitas label baiknya adalah untuk mendistribusi dan promosiin artisnya aja. rasanya juga ga segampang itu juga soalnya, dua hal tersebut udah cukup ribet, karna kan sistemnya bukan 1 band dikelola sama 1 tim kayak di IP Entertainment, tapi lebih ke ada divisi yang mengelola secara langsung beberapa band, Untuk Aquarius/POPS sendiri akhirnya terbentuk kesepakatan bahwa divisi yang ikutan di manajemen D'CInnamons (dengan kendali manajemen ada di tangan manajemen artisnya sendiri) adalah HANYA divisi marketing. tapi ada kesalahan yang kita buat, dimana di coveralbum, nomer telpon yang tercetak adalah nomer orang2 marketing label, sedangkan kinerja individu marketingnya itu sendiri dipertanyakan. Masuk akal kan kalo akhirnya karir satu artis baru jadi keteteran gara2 tim marketing ini juga mengatur penjualan show artis2 yang lebih dulu gede di Aquarius kayak Melly, Agnes, Ari Lasso, J-Rocks. Nah itu yang paling memberatkan. sebenernya Aquarius/POPS itu cukup 'fair' dalam mengelola artisnya, tapi SDM yang ada tidak sepenuhnya berada di kapasitas yang dibutuhkan. Untuk D'CInnamons, bisa dibilang beruntung karena pertengahan tahun ini bisa ngeluarin album soundtrack dan promosinya keangkat sama kinerja si rumah produksi filmnya sendiri. Setelah penjualan kedua album D'Cinnamons nunjukin angka yang signifikan dan bagus, baru deh bargaining power ada di tangan band dan manajemenya. Mungkin hal terbaik yang bisa dilakuin manager pribadi artis dengan modal yang kurang adalah menempel media, ya ? gimanapun promosi memegang peran yang penting banget di karir artis. *panjang gini gapapa ya wenz |
 | gua harap lu mengkampanyekan masalah ini di RSI Wenz.. |
 | tulisan cerdas boss, salut !!! and wajib di"seminar"kan nih ?? |
 | kesha wrote on Nov 21, '07 Beberapa band baru di untungkan dengan sistem manajemen artis, misalnya Kangen Band, mereka bermain musik asal2an dan ancur2an, beatnya ga karu2an, tp sukses mencapai platinum.
Seandainya mereka tidak melalui manajemen artis, mana mungkin ada industri rekaman yang mau menerima mereka.
|
 | thank you for sharing the knowledge... we salute you, wenz! |
 | heterologia wrote on Nov 22, '07, edited on Nov 22, '07 Hohoho!!! Oom Wenz...thx buat artikel ini. Gua pasang di website commonroom.info boleh yah???...Udah banyak orang yang bikin prediksi kalo bisnis di bidang hiburan, khususnya di bidang industri musik bakal mengalami revolusi seiring dengan perkembangan teknologi digital yang memungkinkan banyak orang untuk memproduksi dan menyebarkan data dengan cara yang sangat mudah. Koil gua pikir salah satu band lokal yang cukup sensitif menanggapi situasi baru yang berkembang di dunia hiburan. Seiring dengan perkembangan teknologi, industri musik kembali ke esensinya yang paling awal: seni pertunjukan. Gua sendiri nggak begitu kaget waktu Koil memutuskan untuk menyebarkan musiknya secara gratis. Hal ini sekarang memang banyak dilakukan oleh musisi di seluruh dunia untuk mendongkrak popularitas sekaligus menyebarkan karya dengan cara yang mudah dan murah meriah. Perkembangan di bidang teknologi baru memang pada akhirnya mendorong lahirnya model bisnis yang baru. Musisi atau label rekaman udah dijamin bakal bangkrut kalau hanya mengandalkan pendapatan dari jualan lagu atau RBT. Lagian kalo dipikir-pikir apa gunanya label rekaman kalo ternyata prosedur produksi dan distribusi sudah semakin sederhana akibat perkembangan teknologi. Makanya sekarang ada banyak label rekaman yang muter otak mereka supaya bisa tetap menjalankan bisnis mereka. Sekarang banyak orang yang nggak hanya pengen ngedengerin musik, tapi juga ingin "mengalami" musik secara langsung. Makanya nggak heran kalo banyak band keren nggak hanya sekedar memproduksi lagu bagus, tapi juga jualan lagu pake desain packaging yang keren, konsep pertunjukan yang edan, videoklip yang gokil, website yang canggih, myspace yang oke, merchandise yang sip, membangun fanbase yang loyal, dsb., dsb. Jadi musisi jaman sekarang emang nggak kayak dulu. Mengembangkan karir di bidang musik nggak hanya dituntut menguasai skill atau punya kreatifitas, tapi juga pengetahuan yang terkait dengan penggunaan teknologi. Kalo dipikir-pikir emang pada akhirnya yang bakal kehilangan pekerjaan adalah "middlemen" atau broker yang selama ini memonopoli perkembangan industri musik. Di awal era revolusi industri, middlemen biasanya adalah sosok yang paling banyak mengambil keuntungan dari industri. Mereka biasanya adalah sekelompok orang yang menguasai modal, termasuk pranata produksi dan distribusi, sehingga bisa mengambil keuntungan sebesar-besarnya. Musisi atau seniman yang biasanya menjadi tulang punggung industri ini justru biasanya dapet insentif yang paling kecil. Tapi sekarang karena ada teknologi, keberadaan middlemen udah bisa diganti sama internet. Makanya broker-broker industri musik sekarang banyak yang kelabakan. Nggak heran sih kalo di Indonesia label rekaman mulai nyari duit dari panggung. Soalnya kalo menurut gua, kebanyakan pelaku industri (musik) di Indonesia emang motifnya cuma pengen nyari duit doang tanpa mau terlibat dan berinvestasi di bidang kreatifitas untuk meningkatkan kualitas hidup dan karya senimannya. Begitu tau jualan lagu udah gak ada untungnya, ya udah pasti mereka pengen ngembat rezeki musisi di panggung. Middlemen itu emang sosok yang rakus. Makanya...let's hang the middlemen!!! |
 | Sialan. Nggak online satu hari, langsung kelewatan urusan ini. Artikel menarik, Wen!
Sekitar satu atau dua minggu yang lalu, seorang teman yang bekerja di divisi manajemen artis sebuah label besar bilang ke gue, "Lix, label lo nggak mau buka manajemen artis?"
Gue jawab, "Nggak. Kita nggak percaya kalo kita harus intervensi ke wilayah itu. Rejeki kita sih adanya di jualan rekaman. Bukan mengelola artisnya."
Sanggahnya lagi, "Cuma kan, elo mau yang gedein nama band lo si labelnya, cuma yang kecipratan duitnya malah si band terus. Bukan labelnya?"
Kalimat terakhir saya waktu itu, "Biarin aja. Cara pikirnya beda. Gue mikir itu nggak fair buat bandnya. Toh, kalo mereka bagus manggungnya, kita juga yang seneng."
Cara pikir yang berbeda itu membuat pandangan saya yang bekerja di label rekaman kecil juga otomatis dengan mereka yang bekerja di label rekaman besar. Label rekaman saya, sama sekali tidak pernah berpikiran memotong penghasilan band dari manggung. Malah, kami selalu bekerja keras untuk memasarkan musik mereka melewati batas teritorial negara ini.
FYI, tahun 2008 nanti, dua artis label rekaman saya akan menjalani tur luar negeri lagi untuk memperkenalkan musik mereka di pasar yang baru. Dan tur ini bukan main-main negara tujuannya. Saya sendiri yang kerja di label rekamannya agak-agak takjub mendengar kabar ini.
Hubungan sinergi yang seperti ini harusnya bisa berjalan dengan sangat baik di label besar. Kenapa? Karena mereka punya banyak afiliasi di luar negeri. Ini sisi yang tidak dipikirkan. Tapi, ini sisi yang tidak perlu dipikirkan juga oleh mereka, karena alasan seperti ini lebih masuk ke logika estetika, bukan uang. Yang kami dapatkan dengan membuka jalan artis-artis kami tur ke luar negeri untuk memperkenalkan musik mereka secara lebih luas. Itu kontribusi label rekaman kepada artisnya. Kontribusi artisnya? Mereka bisa membuat kami menutup overhead dengan jualan rekaman dan bisa menjaga citra label rekaman kami dengan maksimal. Sesederhana itu.
Dan jika ada yang meragukan apakah label rekaman saya menuai profit atau tidak? Sampai hari ini sudah masuk tahun ketiga saya bekerja di perusahaan ini dan tidak pernah ada cerita gaji dirapel karena kesulitan uang. Secara logika, we've been keeping our car running! Saya juga hidup dari pekerjaan ini, berarti incomenya lumayan dong bisa membuat sekitar delapan orang pekerja di label rekaman ini hidup?
Di luar pekerjaan, secara pribadi, saya dan band saya juga belum pernah percaya dengan label rekaman. Alasannya sederhana, kami selalu punya dua tangan terbuka untuk disambut bagi sebuah kerja sama bisnis dengan pihak kedua yang ingin menjadikan kami artis mereka. Tapi, apakah akan mampu mengakomodir keinginan kami?
Saya dan band saya selalu punya pendapat bahwa apapun yang kami rilis dan kami hasilkan sebagai sebuah kolektif musik menjadi tanggung jawab kami sendiri. Makanya kami selalu merilis mini album dan album penuh sendiri. Alasannya? Biar nggak merugikan pihak ketiga dan merugikan diri kami sendiri.
Dalam sebuah band, pembagian peran sangat punya porsi yang penting. Band saya belum menjadi band besar. Tapi ada beberapa faktor yang sudah menjadi perhatian kami dari sisi bisnis. Dan kami memilih untuk menjalankan hubungan ini dengan kacamata pertemanan. Di satu sisi, memang tidak bagus secara bisnis. Tapi, kami memilih yang seperti ini karena kami nyaman dengan hal ini.
Bayangkan saja kalau misalnya kami bekerja sama dengan pihak lain yang ingin menggunakan karya kami untuk sebuah hubungan mutualisme yang ujung2nya melibatkan uang? Kacamata ini nggak akan seru buat dijalankan. Jadinya, hidup menjadi lebih serius. Sementara, salah satu esensi berkarya di bidang musik itu ya bersenang-senang.
Saya sepakat kalau sisi bisnis sebuah band dipikirkan. Banyak manajer band yang mikir kalo ngurus manajemen sebuah band itu hanya sebatas mencari job manggung dan membiarkan asap dapur tetap ngebul. Nah, paradigma yang digunakan oleh label besar yang membuka divisi artis manajemen itu juga kurang lebih gini, "Membiarkan asap dapur tetap ngebul."
Saya suka dengan postingan Nadia. Ini nggak bisa dihindari karena memang arah bisnisnya memang ke sana. Tapi, kita perlu mengakalinya.
Gimana mengakalinya? Ketika bangun band ya harus mulai melakukan riset kecil2an ke arah bisnis. Ya, omong kosong juga sih kalo main band untuk fame and fortune. Pasti pikirannya langsung ke arah, gimana membuat pemasukkan jalan terus dan manggung.
*Ngelantur*
Saya mendukung kampanye melawan pembodohan yang dilakukan pebisnis label besar yang membuka manajemen artis. Tapi di satu sisi, yang main band juga perlu mengakali dengan baik bagaimana biar ketemu di tengah. |
 | itbo wrote on Nov 22, '07 gw bantu nyebarin juga yaks.. thanks buat tulisannya..
|
 | wenzrawk wrote on Nov 22, '07, edited on Nov 22, '07 Bisakah saya menerbitkannya di majalah digital saya? atau artikel ini hanya bisa dipublikasikan lewat blog pribadi dan forum musik saja kah?  Silakan aja kalo mau dipublikasikan di majalah, Van. No problem. Thx. |
 | Akhirnya banyak band-band indie yang bagus dan berkualitas cuma terkenal di komunitas2 aja, tidak nation wide  tapi bukannya lebih baik berkembang di scene tertentu secara global dibanding terkenal nation-wide seperti "band-band cupu" tersebut? Dan dari hal ini kayaknya band-band "minoritas" jauh lebih maju dibanding band-band besar yang bernaung di label besar, hanya dengan modal promosi internet dan surat menyurat.
Entah berapa banyak band dari scene lokal yang sudah membuat split album dengan band luar negeri - beberapa malah tidak terlalu dikenal di scene domestik. Kekal sudah pernah berkontribusi dengan sebuah kompilasi tribute untuk Venom bersama In Flames dan Soilwork dan kompilasi tribute Trouble bersama Spiritual Beggars, kini satu label dengan Atrocity di Open Grave Records, dan mendapat review-review yang bagus dari berbagai majalah dan 'zine luar negeri. Atau yang paling gampang, The Upstairs yang mendapat perhatian khusus dari Mark Hoppus di blognya, walaupun beda negara, beda jenis musik, dan berbeda level dari segi popularitas. Atau White Shoes And The Couples Company yang belum lama ini mendapat deal dengan Minty Fresh Records yang juga menaungi Cardigans dan Tahiti 80. Apa Krisdayanti, Dewa, Gigi, dan lain-lain dengan kekuatan kapital label mereka pernah mendapat "prestasi" seperti ini, selain manggung di depan mahasiswa dan TKI di luar negeri sebagai alasan "go international" mereka? Sepertinya tidak pernah.
Memang, exposure seperti itu tidak membawa pemasukan finansial sebesar para band dan penyanyi kualitas ring back tone yang mewabah akhir akhir ini. Tapi dunia rekaman sudah berubah, seperti yang lo bilang. Distribusi makin simpel dan peran middlemen makin terpinggirkan. Tapi bukan gak ada harapan. Sepertinya musisi dan label yang akan selamat adalah mereka yang menawarkan "musik spesial" untuk komunitas-komunitas berfan base kuat dan masih menghargai setiap keping CD beserta artwork dan kemasannya. Kalau pasar lokal mampet, pasar luar masih mungkin ditembus. Sedang musik-musik mass-produced seperti yang banyak beredar cuma akan kencang beredar di pusat-pusat reparasi handphone dan dijual bersama 3gp porno yang juga boleh dibajak dari Kaskus. Hahahahahaha. Dan menurut gue, sekaranglah saat musisi "minoritas" untuk bergerak. |
 | Kalo gak salah, karena Madonna juga salah satu stockholder di LiveNation, dan mereka pengen bikin model bisnis musik masa depan seperti itu. Jadi dealnya, Livenation kira2 invest sebesar $120 juta, selama 10 tahun, untuk 3 album. Kompensasinya, Livenation dapet bagian dr segala macem produk studio, tours, merchandise, DVD releases, sponsorships, licensing agreements, fan club, Website, TV dan proyek2 film. Advanced royalti per album sekitar $17 juta dan bonus kontrak $18 juta, termasuk porsi didalamnya ada saham dan hak exclusive promo tour tadi dengan membayar $50 juta cash & saham, cmiiw. Madonna tertarik karena segala kemungkinan bisa aja dilakukan, unlimited distribution. Model bisnis masa depan? well.. duitnya juga unlimited sih :))  Nah, dengan uang sebanyak itu siapa yang nggak mau bikin deal kayak gini? Apalagi untuk ukuran artis tua seperti Madonna ya, berarti pihak Live Nation udah memperhitungkan segalanya termasuk fase Madonna bakal menjadi peyot :) Sementara kalo di Indonesia gue jamin nggak bakal ada deal seperti ini dengan artis2 tua kita. |
 | tapi bukannya lebih baik berkembang di scene tertentu secara global dibanding terkenal nation-wide seperti "band-band cupu" tersebut? Dan dari hal ini kayaknya band-band "minoritas" jauh lebih maju dibanding band-band besar yang bernaung di label besar, hanya dengan modal promosi internet dan surat menyurat.  Satu sisi emang bener begitu, Za. Tapi akan lebih objektif lagi membuat opini seperti ini kalo kita berada di dalam lingkungan manajemen artis. Beroperasi secara indie itu nggak mudah dan murah, bro. Sangat mahal cost-nya.
Apalagi elo harus memikirkan nasib dapur "keluarga besar" band yang terdiri dari personel, kru & manajemen. Karir yang baik adalah karir yang menghidupi, bukan? Kalo memang bermusik bukan untuk karir gue pikir masalahnya udah selesai sampai di image menjadi band indie internasional. Jelas sebuah hobi itu kan nggak perlu menghidupi tapi dihidupi :)
Belum lama ini ada beberapa manajer band indie sangat terkenal yang "curhat" ke gue tentang sulitnya survival di dunia indie ini. Mereka udah melanglang buana ke berbagai negara, album mereka udah rilis di berbagai negara juga tapi mereka tetap merasa "demand" di dalam negeri justru sangat lemah. Sebagai band karir yang berdomisili di Indonesia posisi seperti ini perjuangannya sangat berat. Mereka bahkan sampai terpaksa melakukan door-to-door marketing untuk menjajakan kembali bandnya seperti halnya mereka baru ngeband kemarin sore. Ini hanya untuk menyelamatkan "dapur" mereka aja sebenarnya.
Gue sendiri justru meragukan potensi belanja scene indie di Indonesia ini. Udah marketnya kecil masih banyak juga yang nggak membeli CD dan lebih senang ngeburn atau download secara ilegal. Nonton konser indie aja jarang yang mau beli tiket dan lebih sibuk nyari kenalan panitia atau menunggu di depan klub sampai akhirnya pintu dibuka. Minum juga di luar dan mabuknya baru di dalam :) Panitia akhirnya gak berani bayar mahal bandnya karena untuk nutupin produksi konser aja mereka belum tahu bakal balik modal apa nggak, boro2 untung. :) Makanya dengan kondisi begini sangat sulit untuk hidup dari bermusik secara indie, Za.
Ini sedikit pengalaman gue sebelumnya jadi anak band, EO, manajer band sampe jurnalis. Been there, done that. Sangat sulit, sangatlah sulit :) |
 | itbo wrote on Nov 23, '07 Udah marketnya kecil masih banyak juga yang nggak membeli CD dan lebih senang ngeburn atau download secara ilegal. Nonton konser indie aja jarang yang mau beli tiket dan lebih sibuk nyari kenalan panitia atau menunggu di depan klub sampai akhirnya pintu dibuka. Minum juga di luar dan mabuknya baru di dalam :) Panitia akhirnya gak berani bayar mahal bandnya karena untuk nutupin produksi konser aja mereka belum tahu bakal balik modal apa nggak, boro2 untung. :)  yang ini yang susah. ngedidik orang buat menghargai dan mendukung dengan mensupport band yang mereka suka, artinya mau mengeluarkan uang untuk beli cd dan beli tiket, anehnya susah banget. apalagi kalo kayak gini dilakukan justru sama orang-orang yang maennya di musik juga, yang tau dan ngerti betapa susahnya buat bikin album dan bikin pertunjukan, tapi tetep aja, kalo mau nontonmah nungguin gratisan... |
 | Kenapa band lebih milih ikut serta dengan management label, menurut gue ada 2 faktor:
1. Sangat sulit mencari manager yang bener2 mau ngurusin band terutama indie (karena Indie di Indonesia, belum bisa menghasilkan pemasukan keuangan yang memadai, dan biasanya jarang sekali orang gambling untuk memenejeri band yang belum terkenal) rata-rata manajer band indie didasari pertemanan, dan teman yang baik belum tentu mampu menjadi manager yang baik! sulitnya mencari orang-orang macam Felix Dass, Wenz Rock inilah yang akhirnya membuat band itu memutuskan untuk masuk ke dalam management labelnya! (yang pada akhirnya 'membunuh' band itu sendiri)
Gue gak setuju kalo hadirnya management label membunuh karir manager band, sangat salah! justru karena lebih banyak orang yang mau jadi artis daripada jadi orang dibelakang layar, membuat posisi manager band menjadi langka, peran manager sekarang ini dianggap hanya seperlunya saja bahkan hanya untuk gaya-gayaan, manager hanya untuk mencari job, tanpa memikirkan image band itu sendiri! kelangkaan inilah yang akhirnya membuat management band itu menarik manager2 handal untuk bergabung dengan mereka, dengan diiming-imingi materi dan berbagai fasilitas lainnya.
2. Banyak orang yang lebih mau menjadi 'Artis'. Sehingga apapun yang berbau ketenaran dan membuat mereka menjadi terkenal dilakukan, mereka merasa dengan masuk label besar dan wajah mereka terpampang di layar kaca mereka sudah menjadi 'artis', meskipun harus membuat karya mirip band 'anu' atau materi musik mirip band 'anu'. Jadinya manager bagi mereka hanya dianggap sebagai 'pencari job' tanpa mementingkan image band itu sendiri, yang penting mereka terkenal.
topik menarik untuk didiskusikan nih.. mungkin ada ide untuk membahas topik semacam ini secara langsung, sambil minum kopi mungkin hehehe...
thx for inspiring wenz! cheers |
 | ncut wrote on Nov 23, '07 Wah,,, tulisannya mantaps,,, df tambah rply2nya,, makin okeh,,,, sy link yah,,, =) |
 | journalin wrote on Nov 24, '07, edited on Nov 24, '07 Eh, Wenz kalau dimuat di Tercetak boleh gak? Tapi sih pasti ada bagian yang diedit. Soalnya gak bakal muat sepanjang ini. Hehe..gimana? Oia, gw baru inget kasus Matta Band dengan lagu "Ketahuan" itu. Ternyata labelnya yang ngasih lagu "Ketahuan" ke Uut Permatasari buat dijadiin lagu dangdut. Matta nggak tahu gara2 nggak ngerti sama kontrak yang ditandatangani. Uut juga nggak merasa ngambil lagu orang lain karena lagu "Ketahuan" itu dikasih sama pihak label. Lagu Matta jadi diklaim milik label dan main dikasih-kasih aja ke artis lain yang satu label sama Matta. Bahkan, terjadi sebelum album Matta sendiri rilis. Oh ow, label ketahuan X P |
 | numpang baca bung wenz... |
 | Gue gak setuju kalo hadirnya management label membunuh karir manager band, sangat salah! justru karena lebih banyak orang yang mau jadi artis daripada jadi orang dibelakang layar, membuat posisi manager band menjadi langka, peran manager sekarang ini dianggap hanya seperlunya saja bahkan hanya untuk gaya-gayaan, manager hanya untuk mencari job, tanpa memikirkan image band itu sendiri! kelangkaan inilah yang akhirnya membuat management band itu menarik manager2 handal untuk bergabung dengan mereka, dengan diiming-imingi materi dan berbagai fasilitas lainnya.  no. label tertarik menarik band-band ke dalam manajemen artis milik label karena sekarang omzet mereka berkurang di penjualan album fisik. simple as that. manajemen artis label tentunya jadi decision maker, bukan sang manager band. kalau laku sukur, kalau nggak laku, ya didepak. seperti kata Wenz, disposable.
btw, banyak juga kok band butut dengan manager yang bagus, yang bisa menjual bandnya seolah2 itu band bagus. :D |
 | speaking of senang gratisan disini, siapa disini yang masih suka bertanya duluan [sebelum ditawarin],
"Manggung ya ntar? Ada freepass?"
:D |
 | wah memang enakan indie label yah bos ga banyak aturan n tetap metal yg ok!!!! thk pak wens kpn lg bikin event d jayabayanya!!!! tak copy ya pak infonya di sebarluasken...boleh yo pak...matur suwon \m/ |
 | itbo wrote on Nov 26, '07 "Manggung ya ntar? Ada freepass?"  hehe.. pertanyaan yang diajukan seorang teman saat kami ngobrolin acara launching seringai.. jawaban gw cuma nyengir.. |
 | bos..gua link sekalian di copy yeh..
thnx_ |
 | ratulangi wrote on Nov 27, '07, edited on Nov 27, '07 ohh gitu ya ... thanks buat infonya :) |
 | minta ijin copy tulisannya om...n aq sebarin boleh gak...daripada musik INDONESIA rusak dgn band2 yg not qualified,TAKKAN KU BIARKAN OM....ijin yah OM...???? |
 | bang wend, tulisan abang saya forward ke blog saya... tapi udah saya tulis kok dari mana sumber dan siapa penulisnya....
makasih bang... |
 | saia publish di website saia ya... terima kasih
oh ya sedikit menyampah mengenai bajakan... kenapa ya pelaku bajakan musik Indonesia ga belajar ama pembajak film...sekarang pembajak film ga bajak film Indonesia lagi...kalo handai tolan berkunjung ke tempat bajakan film yang tersebar di seluruh penjuru Jabodetabek...pasti penjualnya ga jual film bajakan Indonesia...ok mungkin ada tapi jumlahnya sedikit.... ga kaya bajakan musik Indonesia yang masih bejibun...huh |
 | wa.. tulisan yg sangat analisis, bagus membuat gw berfikir extra untuk menembus jalur major label! hehehe.. makasih ya om wenz gw sebarkan AJARAN nya ya wenz |
 | wah mr.its keren banget tulisan..mudah2an aku ga salah pilih manajemen artis n label buat kita masuk blantika musik indo |
 | ceritanya jadi mirip kasus Papa T Bob dulu, mau mengorbitkan penyanyi baru asal duitnya ada. yang ada malah terdengar kasus pedofilia |
 | artikelnya sadis!! i'll put it on my page so everyone could dig it yes???!! |
 | tapi om wen.
akhir2 ini justru ada juga di industri indie label yang makin profit oriented juga lho(gw g perlu nyebutin namanya) jadinya malah mirip major label. mereka menjadi major di tengah2 indie label itu sendiri.
dan menurut info mereka mjustru melakukan monopoli di industri indie. termasuk monopoly artis indie itu sendiri. gmana menurut bung wen? |
 | emang ASIRI itu singkatan apa wendi? |
 | muantap, bikin band berpikir kritis juga, ngejalanin dengan lebih sadar kali ya
keren abis, salut...................
ASIRI kalo gak salah asosiasi industri rekaman indonesia deh.........
salam kenal..........dunks............ |
 | Intinya Mata Duitan Smua Dah...ga ada yang peduli dengan musiknya itu sendiri... |
 | mantep sudarsono! gw link |
 | om wenz.. izin mo distribusikan artikel ini ya..keep up the great works! |
 | Thanks banget buat semua info nya bro..salam |
 | label rekaman tidak membunuh tp mencoba survive krn saat ini label tdk bisa mengharapkan apa2 dr penjualan cd/kaset dgn pembajakan yg makin menggila promo dan distribusi ttp dilakukan oleh pihak label tentu saja dgn biaya yg tidak sedikit terlebih utk pembuatan video klip dimana label bisa mendapat profit jika penjualan cd/kaset mencapai angka 100rb aja sulit cara lainnya adlh mrk menangani manajemen artis tsb gw kira itu bkn membunuh tp simbiosis mutualisme musisi luar bisa kembali ke "indie" krn nama mrk sudah besar fans akan trus mencari produk2 mereka sedangkan band2 baru di indo gw yakin mrk ga punya cukup dana utk melakukan distribusi cd/kasetya ke sluruh indo,promo di semua media (TV,radio,cetak,internet) blm lg bkn v-klip dan menyebarkan ke smua station TV yg notabene tugas dr sebuah label rekaman going indie is not wrong but menurut gw slh satu cara untuk dikenal org secara luas adlh dgn manjadi bagian dr satu major label krn mrk punya koneksi yg luas ke media massa biarpun kita punya band bagus, manajemen bagus ttp aja ga dikenal klo ga ada promosi apalagi koneksi ke media massa khususnya tv dan radio job manggung yg jadi penerus hidup musisi jg berkat promosi yg dilakukan label ke radio sluruh indo musik mereka didengar,dikenal dan aliran job manggung mulai dr situ idealis dan komersil memang susah utk disatuin paling enak band band yg ud eksis di indie kya upstairs,changchuters direkrut major tanpa ngerubah idealisme mereka dulu yg cmn dikenal satu kota skrg bisa sluruh indo dan bisa manggung kliling indo dgn fee yg naek berlipat2 dibanding waktu mrk msh indie klo lo ud terkenal kya netral,3 diva terserah d dari major mo balik lg ke indie ga masalah |
 | Nambahin lagi ah...
Beberapa tahun lagi, perkiraannya bisnis label rekaman akan mati sama sekali. Semua berubah menjadi bisnis Artist Management. Artist Management akan mencari talent baru, lalu digarap dalam hal image dan skill manggung dan blablabla...setelah itu dibuatlah sebuah album dengan tujuan mempromosikan artis tersebut. Catat...album adalah PROMOTIONAL TOOL.
Setelah promo melalui album, lanjut marketing via media, lalu diharapkan bisa mendapatkan revenue dari panggung, talent dan lain-lain.
Jadi...para manager...please prepare youself. |
 | Band baru yang hadir dengan strategi yang brilyan dan sangat berhasil di awal karirnya adalah Samsons yang melakukan master licensing deal dengan Universal Music Indonesia. Mereka membiayai sendiri produksi rekaman dan kemudian menjalin kerjasama promosi & distribusi dengan major label selanjutnya. Ke depannya deal seperti ini nantinya akan menjadi ”favorit” para manajer artis (tentu bila mampu).
boleh mnta penjelassan gak klo kalimat yg d atas maksudnya gmn? makasih |
 | Band baru yang hadir dengan strategi yang brilyan dan sangat berhasil di awal karirnya adalah Samsons yang melakukan master licensing deal dengan Universal Music Indonesia. Mereka membiayai sendiri produksi rekaman dan kemudian menjalin kerjasama promosi & distribusi dengan major label selanjutnya. Ke depannya deal seperti ini nantinya akan menjadi ”favorit” para manajer artis (tentu bila mampu).
yg ini minta penjelasan dnks mas? makasih bnyak? |
 | mas tlg jawab soallan saya dnks? |
 | menurutku sebetulnya, musik kita masuk ke dapur rekaman ga membunuh Artis2nya terkecuali pada awal perjanjian ama Manajer sama2 menguntungkan. memang dalam proses Louncing album peran manajer sngt brpengaruh skali tapi sang Artis jangan mau seperti Wayang saja, dalam arti ikut Andil dalam mempertahankan Album Musik Kita Dunk...
salam dari kami. |
 | Please dunk kasih tau alamt dapur Rekaman indie label di Kota jakarta.?? coz kami mo ngirimin track demo lagu. makasih.. |
 | Please dunk kasih tau alamt dapur Rekaman indie label di jakarta.?? coz kami mo ngirimin track demo lagu. makasih.. |
 | Halo, Saya Sandi dari Music2Deal ingin menawarkan satu website untuk mempromosikan dan memperkenalkan suatu lagu baik di dalam maupun di luar negeri. Music2Deal ini bersifat sama seperti MIDEM di Cannes, France. Jadi anda tidak usah terbang jauh2 ke MIDEM untuk mempromosikan lagu di label anda maupun Band yang ingin memperkenalkan lagunya. Jaman Cyber loh sekarang……………..
Music2Deal lebih dari 30 cabang di seluruh belahan dunia siap melayani anda.
Kami akan memberikan Free Membership untuk mencoba selama satu bulan apapun pilihan membership yang anda pilih. Bagi yang ingin bekerja sama maupun ada proposal yang anda ingin berikan, anda bisa menghubungi saya di indonesia@music2deal.com
Kami sertakan attachment berikut untuk di pelajari dan silahkan menghubungi saya jika ada pertanyaan.
Ps: jangan lupa untuk meng upload lagu yang anda ingin promosikan.
Terima Kasih.
Salam, Sandi www.music2deal.com
|
 | So... what do you suggest artists/musicians to do? we all know how shitty Indonesian labels are, but its not like there's much you can do unless you have enough money to produce, promote and manage your own label/band. Or is there? It seems like going totally indie is the only way out |
 | hhmmm.... mantap surantaff... tak Copas yach...
tuk membuka mata mereka yang belum tahu tentang industri musik... termsuk kami semua |
 | bung wenz, nama saya Niki (salam kenal!), saya barusan baru saja private-message anda, coba dicek kalo ada waktu. saya sendiri ada band indie, & permasalahannya juga mirip2 yg bung wentz bilang. tulisan2 bung wenz itu sejujur2nya sangat amat kritis & baik sekali. tapi tulisan tinggal tulisan kalo tidak dilanjuntkan ke tahap berikutnya... alhasil akan cuman jadi bahan 'komplain'-an doang.. oleh karena itu, saya mau bertanya: apakah ada rencana bung wenz utk memasukkan tulisan ini ke media mungkin, sperti majalah, surat kabar dsb? atau surat utk dilayangkan ke major2 label industri musik kita? mungkin bisa bekerja sama juga dengan orang2 (trutama dari kalangan musisi) yg ingin turut menyurakan & BERTINDAK dalam hal ini? saya sendiri pasti akan ikut kalo seandainya bung wenz ada membutuhkan! intinya saya hanya ingin industri musik indonesia, trutama scene indie yg begitu banyak sudah menelurkan kualitas band2 baik sekali & berskala internasional sperti Mocca, White Shoes, Burgerkill, dsb , bisa MAJU kembali ! trims! |
 | Ijin repost juragan...salam |
 | Anggap aja Label itu Iblis Setan, dan anak band/musisi adalah manusia.... kalau manusia mau ikutin kemauan setan iblis, yang salah sebenarnya setan nya atau manusia nya yg mau ikutin setan ?? semoga comment singkat ini bisa dipahami , agar kiranya kita hidup tidak mengutuk dan memaki2 setan, yang nyata2 di ciptakan Tuhan dan di bebaskan Tuhan mengganggu manusia.. tapi pastikan diri kita sendiri (manusia/musisi) tidak ikut menjadi hamba setan... |
Comment deleted at the request of the author.
 | Daripada kita memaki2 label yg realita nya jelas ingin menghidupi periuk nasi nya, mungkin lebih baik beri opini yg argumentatif (berupa solusi) agar mereka (label) dapat hidup dengan cara yang lebih baik sekiranya menurut kita 'penjajahan' lahan management artis itu tidak baik. Suka atau tidak suka Label adalah bagian dari sekian banyak unsur dalam kehidupan musik/bisnis musik, dan hendaklah kita berpandangan bijak bahwa kita mesti memikirkan kelangsungan hidup semua unsur2 dalam kehidupan bisnis musik ini mengingat kita saling membutuhkan dan saling berketergantungan (tidak ada pihak yg berada diatas pihak yg lainnya). Aku pikir kita harus hindari pemikiran yang kontra produktif.... Semoga paparan singkat ini dapat berguna....
|
 | penting ni boss wat band" baru,,, |
 | bener bgt tuh tulisan di atas..pelan2 kita disuguhin musik2 yang uda jelas bgt mlenceng dri genre kita..kasian band2 yang punya kualitas trus mikirin bnget2 konsep musik mereka.. makin suram aja dh dunia permusikan kita..gw berharap kreativitas2 kita semakin ada titik terangnya dh biar bisa berkmbang dan sukses dimasa mndatang.. |
 | Izin share ya mas...bagus sekali tulisannya |
| |